====================================================================
MAKALAH
PENGANTAR SOSIOLOGI
Terbuangnya Alokasi Kurikulum
2013 oleh Pemerintah dengan Kurangnya Kesejahteraan Guru Sukarelawan di
Pandeglang
Makalah ini Diajukan Untuk
Memenuhi Tugas dari Mata Kuliah Pengantar Sosiologi
Dengan dosen pengampu:
Rizki
Setiawan, M.Sosio
DISUSUN OLEH :
FACHRI HAFIDZIKRI
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG
TIRTAYASA
2014
Terbuangnya Alokasi Kurikulum 2013
oleh Pemerintah dengan Kurangnya Kesejahteraan Guru Sukarelawan di Pandeglang
Latar
Belakang Masalah
Dalam
pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 menyatakan
bahwa negara Indonesia akan mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa,
tetapi pada kenyataannya sangat berbeda, negara yang menyatakan akan mensejahterakan
kehidupan bangsa, malah terbalik menjadi, menyengsarakan rakyat. Terbukti,
banyaknya sarjana-sarjana muda lulusan dari fakultas pendidikan yang belum menjadi guru Pegawai Negeri Sipil
(PNS) tetapi masih menjadi guru sukarelawan dengan gaji yang sangat rendah. Hal
ini di sebabkan karena selalu ada seleksi CPNS setiap tahun. Khususnya guru,
seleksi yang dilaksanakan oleh pemerintah tidak sesuai dengan keahliannya, semua
lulusan bisa menjadi guru. Seperti sarjana ekonomi yang menjadi guru
matematika. ini menyebabkan sarjana dari lulusan keguruan harus bersaing dengan
jutaan para CPNS lainnya yang akan mengikuti test.
Di
pandang dari sisi management keadaan pendidikan di Indonesia masih kurang baik,
tidak mampu memperkirakan apa saja yang akan terjadi di masa yang akan dating,
tidak seperti negara tetangga seperti singapura, di Indonesia setiap pergantian
presiden selalu berganti kurikulum, itu sangat membebani, alokasi dana yang
pemerintah berikan sangat fantastis. Bahkan berteriliunan, buktinya saja
alokasi dana dari pemerintah untuk penetapan kurikulum 2013 tidak kurang dari
2,5 triliun, mirisnya penetapan kurikulum 2013 tidak berjalan secara epektif dan
di cabut kembali, dana yang di keluarkan pemerintah terbuang sia-sia, sedangkan
kesejahteraan guru sukarelawan amat sangat menyedihkan. Mereka menjadi guru
sukarelawan dengan gaji yang sangat rendah yaitu sebesar Rp.350.000; / 1 bulan,
sedangkan kebutuhan seperti makan dan teransfortasi mereka tanggung sendiri,
itu sangat minim.
Masalah ini pun menjadi gambaran pemerintah
tidak mampu mengatur sistem pendidikan. Pemerintah belum berani mengangkat para
guru sukarelawan yang sudah mengabdi lebih dari 5 tahun untuk di angkat menjadi
PNS.
Rumusan
Masalah
1. Kenapa
pemerintah mengadakan seleksi PNS setiap tahun, khususnya untuk menjadi guru
dan mengapa meloloskan para sarjana yang bukan dari lulusan keguruan lolos
untuk menjadi guru?
2. Mengapa
pemerintah tidak menetapkan UMR sekala nasional kepada guru sukarelawan?
Kasus
Terbuangnya Alokasi Kurikulum 2013 oleh Pemerintah dengan Kurangnya Kesejahteraan Guru Sukarelawan di Pandeglang
Terbuangnya Alokasi Kurikulum 2013 oleh Pemerintah dengan Kurangnya Kesejahteraan Guru Sukarelawan di Pandeglang
Para sarjana pendidikan yang menjadi
guru sukarelawan di sekolah-sekolah dasar di daerah kabupaten Pandeglang mayoritas
masih berusia sangat muda 25 s.d 30 tahun, mereka mengaku sudah mengajar lebih
dari 5 tahun, selama mengajar mereka mendapatkan gaji yang sangat kecil
Rp.350.000; setiap bulan, dalam penelitian yang saya lakukan secara lansung
kepada beberapa guru sukarelawan, mereka mengeluhkan pemerintah belum mampu
mensejahterakan guru-guru di Indonesia walaupun adanya sertifikasi itu hanya di
rasakan oleh para PNS saja sedangkan kami tidak bisa merasakan sertifikasi
karena kami bukan PNS, seharusnya pemerintah bersungguh-sungguh untuk bisa
mensejahterakan para guru sukarelawan seperti kami bersungguh-sungguh mengajar
para siswa1.
Para
guru sukarelawan hanya mendapatkan gaji sebesar Rp.350.000; dengan biaya makan
dan transfortasi di tanggung sendiri, mengaku sangat kekurangan. Saat
penelitian yang saya lakukan kepada guru sukarelawan yang lainnya, ia sudah
berumah tangga dengan tanggungan satu istri yang sedang mengandung dan sebentar
lagi akan melewati proses persalinan, ia mengaku belum memiliki uang pegangan
untuk proses persalinan nanti karena gaji yang ia dapatkan sangat kecil,
terlebih lagi ia berumah tangga di luar kabupaten Pandeglang, yakni di kota
Serang. Dengan pendapatan yang tidak besar di tambah rumah yang jauh membutuhkan
biaya transfortasi yang besar itu akan lebih mengurangi pendapatannya, ketika
saya menyarankan untuk membeli rumah di Pandeglang, ia mengatakan jangankan
untuk membeli atau mengontrak rumah di Pandeglang, untuk sehari-hari saja saya
kekurangan bahkan saya sering meminjam uang kepada para guru PNS jika ada
kebutuhan mendadak seperti acara siraman tujuh bulanan istri saya2.
Kejadian
ini sangat menggelitik hati dalam keadaan para guru sukarelawan yang bisa
dikatakan sedang dalam kesengsaraan, pemerintah
malah berusaha memperbaharui kurikulum pendidikan yang menghabiskan dana sangat
besar dan tidak efektif pula, uang secara percuma hilang, jika saja anggaran
tersebut di gunakan untuk mensejahterakan para guru sukarelawan yang sangat
membutuhkan biaya pasti akan lebih bermanfaat.
Para
guru sukarelawan mengaku jika mereka ingin sedikit mendapatkan tambahan penghasilan mereka harus bekerja lagi
setelah mengajar. Maksudnya, mereka menjadi operator komputer untuk mengerjakan
laporan-laporan yang tidak sempat para PNS kerjakan, belanja kebutuhan
peralatan dan perlengkapan sekolah. dari mengerjakan pekerjaan tambahan seperti
membuatkan laporan-laporan itu mereka mendapatkan pendapatan tambahan,
setidaknya untuk membiayai keluarganya di rumah.
Pemerintah
tidak terlihat peranannya dalam hal mensejahterakan rakyat, selalu
menganggarkan biaya yang sangat besar dan tidak mendapatkan hasil yang besar,
semua rencana-rencana yang di canangkan tidak pernah berjalan secara sempurna,
jangankan untuk mencapai sempurna untuk mendekatinyapun sangat sulit, malahan
dikatakan masih belum setengahnya, buktinya saja pemerintah mencanangkan
kurikulum 2013 yang di gadang-gadang akan membuat para siswa-siswi akan menjadi
lebih mandiri, aktif dan kreatif. Buktinya belum sampai satu tahun kurikulum
itu di tarik kembali karena gurunya saja belum paham sepenuhnya teori-teori
akademi dalam kurikulum 2013.
Pemerintah
belum berani menetapkan UMR sekala nasional bagi para guru sukarelawan, hal ini
menyebabkan para guru sukarelawan yang ada di pandeglang mendapatkan pendapatan
yang sangat kecil karena pendapatan kabupaten Pandeglang yang masih rendah,
para guru sukarelawan mendapatkan uang tambahan dari sumbangan guru PNS yang
ada di tempat mereka mengajar. Yakni bendahara sekolah memotong gaji guru PNS
sebesar Rp.50.000/1 guru secara ikhlas. Dari situ saya mendapatkan uang
tambahan lagi3
Selain
ketidak adilan pemerintah untuk mendapat
bayaran yang seharusnya sesuai dengan kerjanya, mereka pun mendapatkan tekanan
mental dan harus memiliki kesabaran yang kuat karena mereka bekerja dari pagi sampai sore tetapi
pendapatan yang mereka dapatkan sangat kecil. Para guru sukarelawan sangat
membutuhkan bantuan pemerintah, seperti jaminan kesehatan, jaminan
kesejahteraan dan lainnya itu sangat mereka butuhkan, pengabdian yang mereka
lakukan harusnya sebanding dengan gaji yang mereka dapatkan.
Seharusnya
para guru sukarelawan yang sudah mengabdi lebih dari 3 tahun secepatnya di
angkat menjadi PNS agar kesejahteraan mereka terjamin. Program seleksi CPNS
semestinya sesuai dengan keahliannya agar semuanya berjalan baik.
Pembahasan
Analisis
kasus dengan Teori social konflik
Karena sumbangsihnya menjadi
pembela kaum buruh untuk mempertahankan hak dan kebebasan mereka yang
sebelumnya selalu menjadi ‘kuda tunggangan’ bagi kaum kapitalis, Karl Marx
(1818-1883) menduduki tangga ke dua puluh tujuh dari seratus tokoh yang
berpengaruh dalam sejarah4. kutifan ini menurut pandangan saya
sangat menarik untuk di samakan dengan guru sukarelawan. Karena para guru
sukarelawan tersebut masih di pandang seperti seorang buruh oleh paemerintah, buktinya
saja pendapatannya di sesuaikan dengan pendapatan perdaerahnya, ini menyebabkan
para guru tersebut sangat kekurangan pendapatannya.
Berdasarkan kenyataan di atas, kedua kelas berbeda
memiliki fungsi sosial yang berbeda-beda yaitu kelas bourgeois
yang memiliki alat-alat produksi dan menguasai proses produksi secara
keseluruhannya, sedangkan kelas proletariat juga dianggap sebagai ‘objek’ dalam proses produksi dengan
menjual ‘tenaga kerja’ mereka dan mengenakan gaji atau upah yang rendah5.
Pemerintah sebagai kaum penguasa yang memiliki wewenang-wewenang secara
keseluruhan. Sedangkan para guru sukarelawan dianggap sebagai kelas kaum buruh
yang dianggap sebagai objek utama dengan menjual tenaganya dengan di bayar
menggunakan gaji yang kecil nominalnya.
Penegasan
Menurut pendapat saya tentang permasalahan yang di bahas dalam Essay ini melibatkan dua pihak, baik pihak yang menjadi korban maupun pihak yang menjadi pelaku. Para guru sukarelawan membutuhkan kesejahteraan sedangkan pemerintah sangat acuh kepada keinginan para guru sukarelawan yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun, ini menyebabkan permasalahan yang sangat serius. Solusi yang tepat menurut saya angkat mereka menjadi PNS hentikan seleksi CPNS yang di angkat tiap tahun sampai semua para guru sukarelawan sudah menjadi PNS.
Menurut pendapat saya tentang permasalahan yang di bahas dalam Essay ini melibatkan dua pihak, baik pihak yang menjadi korban maupun pihak yang menjadi pelaku. Para guru sukarelawan membutuhkan kesejahteraan sedangkan pemerintah sangat acuh kepada keinginan para guru sukarelawan yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun, ini menyebabkan permasalahan yang sangat serius. Solusi yang tepat menurut saya angkat mereka menjadi PNS hentikan seleksi CPNS yang di angkat tiap tahun sampai semua para guru sukarelawan sudah menjadi PNS.
Daftar Pustaka :
Sumber
buku
Hart, M. H. 1993. 100 A Ranking of
the Most Influential Person in History. New York : A Citadel Press Book.
McLellan, D.
1977. Karl Marx: Selected Writing. London : Oxford University.
Sumber
wawancara
Dilakukan
dengan beberapa guru sukarelawan dan guru PNS
2 Sumber wawancara secara langsung dengan
guru sukwan berinisial S sudah berumah
tangga
[3]
Hart, M. H.
1993. 100 A Ranking of the Most Influential Person in History. New York
: A Citadel Press Book.
4 McLellan,
D. 1977. Karl Marx: Selected Writing. London : Oxford University.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar